Catatan Karantina

Hari ini sudah masuk hari ke-58 karantina terkait dengan pandemi Covid-19 yang tercatat mulai masuk ke Indonesia (secara pengumuman pemerintah) sejak bulan Maret 2020. Kejenuhan sudah terakumulasi begitu besarnya hingga kebanyakan orang sudah menganggap apa yang terjadi sekarang adalah sesuatu yang normal dan mulai melanjutkan aktifitasnya seperti biasa. Di sisi lain, kebijakan pemerintah semakin tak terarah. Hari kemarin presiden ngomong ini, besoknya mentrinya ngomong itu, hari ini pejabat satu ngomong ini, besoknya pejabat lain ngomong beda lagi. Sungguh membingungkan.

Covid-19 di Indonesia awalnya ditanggapi secara sepele oleh pejabat-pejabat pemerintah. Bahkan tidak sedikit dari pejabat itu yang justru membercandainya. Pada awal virus ini mewabah, pemerintah bahkan sempat mewacanakan untuk menggenjot sektor pariwisata untuk memanfaatkan peluang dari lesunya perjalanan wisata karena kekhawatiran akan virus ini. Diskon tiket pesawat besar-besaran pun sempat dilakukan, alih-alih menutup penerbangan dari negara-negara terdampak. Hasilnya, wisatawan mancanegara tetap datang ke Indonesia dengan tenang. Bahkan, beberapa wisatawan asal China, negara asal wabah ini, disambut bak pahlawan ketika tiba di bandara sebuah provinsi di Pulau Sumatera. Pemerintah berdalih sudah melakukan protokol screening terhadap para WNA yang masuk ke Indonesia, walaupun pada saat itu gejala awal dari virus ini sebenarnya belum dipahami betul oleh saintis dunia. Hasilnya benar saja, beberapa waktu kemudian muncullah kasus pertama di Indonesia. Pembawa virus ini adalah seorang WN Jepang yang tinggal di Malaysia, dengan rekam jejak perjalanan ke negara zona merah wabah. Setelah itu, rentetan kasus baru bermunculan, umumnya memang dari daerah yang arus keluar masuk WNA nya tinggi seperti Jakarta dan Bali.

Mungkin teriakan untuk memblokir penerbangan dari negara asal wabah terdengar rasis, namun memang sepertinya itu adalah opsi yang paling baik untuk mencegah penyebaran wabah ke suatu wilayah negara. Keras di awal, namun dampak ke belakangnya akan jauh lebih baik. Vietnam adalah contoh yang paling nyata.

Vietnam adalah salah satu negara Asia Tenggara yang berbatasan langsung dengan China. Sejak Januari ketika wabah masih merebak di China saja, tindakan preventif sudah dilakukan. Mereka juga jadi negara pertama yang memblokir penerbangan langsung dari China. Hal ini mungkin langkah paling krusial yang mereka lakukan mengingat fasilitas kesehatan mereka yang terbatas. Langkah ini juga terbukti manjur karena per 24 April 2020 mereka telah membuka lockdown. Bandingkan dengan Indonesia yang awalnya bercanda-bercanda dulu, baru kelabakan di akhir.

Yah, mungkin sudah terlambat untuk menyesali yang sudah terjadi. Yang bisa kita lakukan adalah mengingat betul kejadian ini sebagai pelajaran di masa mendatang. Kejadian wabah virus ini di Indonesia juga telah menunjukkan watak asli dari orang Indonesia, yang selalu gagap menghadapi masalah dan kurang baik dalam merencanakan masa depan. Ini yang harus diubah. Semoga Tuhan memudahkan langkah kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Untuk Si Melati Gambir