Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Sambal bawang, sambalnya orang malas. Tapi kok enak..

Gambar
Sambal ulek.(via Wikimedia Commons) Suatu ketika, pas tanggal muda, karena bosan dengan menu yang begitu-begitu saja, maka istri saya berinisiatif untuk membeli beberapa kilo ikan laut. Yah, bukan ikan yang mewah-mewah amat sih, cuma ikan mata besar atau bahasa kerennya bigeye tuna . Alhasil, malamnya, ikan tersebut dimasak dengan cara yang biasa saja, digoreng dengan taburan bumbu kemasan. Nah, setelah acara goreng menggoreng selesai, ternyata anak saya yang baru berusia 3 bulan bangun dan menangis, minta nenen, jadi terhentilah aktifitas memasak istri saya, dengan hasil sementara beberapa ekor ikan goreng yang nampak lezat. Tapi, baru saja saya mengintip, istri saya malah berteriak dari kamar, minta dibikinin sambal buat makan ikan tadi. Aish, pikir saya, bikin kerjaan aja. Akhirnya dengan sedikit malas saya pun mulai berpikir, sambal apa yang paling mudah dibikin. Aha, pikir saya, bikin aja sambal bawang. Ya, sambal bawang, sambal simpel yang tidak perlu banyak bumbu. Ak...

Catatan Karantina

Hari ini sudah masuk hari ke-58 karantina terkait dengan pandemi Covid-19 yang tercatat mulai masuk ke Indonesia (secara pengumuman pemerintah) sejak bulan Maret 2020. Kejenuhan sudah terakumulasi begitu besarnya hingga kebanyakan orang sudah menganggap apa yang terjadi sekarang adalah sesuatu yang normal dan mulai melanjutkan aktifitasnya seperti biasa. Di sisi lain, kebijakan pemerintah semakin tak terarah. Hari kemarin presiden ngomong ini, besoknya mentrinya ngomong itu, hari ini pejabat satu ngomong ini, besoknya pejabat lain ngomong beda lagi. Sungguh membingungkan. Covid-19 di Indonesia awalnya ditanggapi secara sepele oleh pejabat-pejabat pemerintah. Bahkan tidak sedikit dari pejabat itu yang justru membercandainya. Pada awal virus ini mewabah, pemerintah bahkan sempat mewacanakan untuk menggenjot sektor pariwisata untuk memanfaatkan peluang dari lesunya perjalanan wisata karena kekhawatiran akan virus ini. Diskon tiket pesawat besar-besaran pun sempat dilakukan, alih-alih men...

Ilmu dan kesombongan

Gambar
"Gambar dapat bermakna 1000 kata", kata dosen saya dulu. 1 gambar akan lebih efektif daripada penjelasan satu paragraf, satu gambar dapat pula dimaknai lebih dari satu makna. Itu memang betul saya rasa. Seperti yang saya alami belakangan.  Beberapa waktu lalu saya menemukan sebuah gambar yang cukup menarik, yaitu seperti ini: Gambar itu bisa dimaknai sebagai lelucon, dimana sang pembuat drainase dianggap gagal karena drainase buatannya tidak mampu membuang genangan yang ada di jalan tersebut. Namun di sisi lain, saya menganalogikannya menjadi hubungan ilmu dan sifat sombong/congkak/pongah yang menghalanginya. Drainase yang letaknya lebih tinggi tersebut adalah analogi sifat sombong seseorang, dimana karena kesombongannya dia tidak mau belajar dari kesalahan sehingga ilmu tidak masuk kedalam dirinya. Saya teringat kata dosen saya yang lain dulu, kata beliau "Salah satu tahap awal orang bisa berubah itu adalah dengan menyadari dulu kebodohannya, sehingga dia ...