Sambal bawang, sambalnya orang malas. Tapi kok enak..

Sambal ulek.(via Wikimedia Commons)

Suatu ketika, pas tanggal muda, karena bosan dengan menu yang begitu-begitu saja, maka istri saya berinisiatif untuk membeli beberapa kilo ikan laut. Yah, bukan ikan yang mewah-mewah amat sih, cuma ikan mata besar atau bahasa kerennya bigeye tuna. Alhasil, malamnya, ikan tersebut dimasak dengan cara yang biasa saja, digoreng dengan taburan bumbu kemasan. Nah, setelah acara goreng menggoreng selesai, ternyata anak saya yang baru berusia 3 bulan bangun dan menangis, minta nenen, jadi terhentilah aktifitas memasak istri saya, dengan hasil sementara beberapa ekor ikan goreng yang nampak lezat. Tapi, baru saja saya mengintip, istri saya malah berteriak dari kamar, minta dibikinin sambal buat makan ikan tadi. Aish, pikir saya, bikin kerjaan aja. Akhirnya dengan sedikit malas saya pun mulai berpikir, sambal apa yang paling mudah dibikin. Aha, pikir saya, bikin aja sambal bawang.

Ya, sambal bawang, sambal simpel yang tidak perlu banyak bumbu. Akhirnya saya mengambil bawang putih dan mengupas 3 siung. Kemudian saya ambil 7 buah cabai rawit merah -- saya sengaja ambil jumlah ganjil, supaya lebih afdol, karena kan katanya Rasulullah suka bilangan ganjil -- saya buang tangkainya kemudian saya cuci beserta 3 bawang tadi. Sambal bawang sebenarnya ada yang versi matang, dimana bawang dan cabainya ditumis dulu, tapi biar cepat saya pilih aja sambal bawang mentah yang tidal perlu ditumis, jadi tidak perlu menyalakan kompor segala. Setelah bawang putih dan cabai dicuci, saya letakkan semua bahan tadi ke cobek, kemudian saya tambahkan garam secukupnya dan sedikit micin -- memang dasar saya ini generasi micin. Setelah itu tinggal diulek saja semua baha tadi sampai halus. Dan, voila, tidak sampai lima menit sudah jadi sambal.

Setelah sambal jadi, karena saya sudah lapar langsung saja saya ambil nasi bersama dengan ikan goreng dan sambal bawang buatan saya itu. Saya menuju ruang depan untuk makan, yang ternyata disana ada istri saya yang sedang nenenin anak saya. Saya pun pamer sambal bikinan saya, yang aromanya beradu dengan ikan goreng. Nikmat sekali rasanya. Yah, beginilah saya, hal sesimpel sambal bawang pun sudah bisa membuat saya bahagia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Untuk Si Melati Gambir

Catatan Karantina