Surat Untuk Si Melati Gambir

Kalau harus mengumpamakan dia, mungkin aku akan memilih bunga melati. Lebih spesifiknya: melati gambir. Bukan sekadar karena bentuknya yang mungil atau wanginya yang khas, tapi karena ada sesuatu dari dirinya yang mengingatkan pada aroma masa lalu—lembut, bersih, dan menghanyutkan secara halus.

Dia seperti melati dalam banyak sisi: kalem, menjaga diri, tak pernah mencolok tapi justru memikat. Paling tidak itu yang ada di dalam pikiranku. Wajahnya oriental, tapi logatnya medok Jawa Tengah, seperti harmoni antara dua dunia yang membentuk satu karakter manis dan membumi. Dia bukan tipe yang blak-blakan; sikapnya cenderung menjaga jarak, tapi justru itu yang bikin penasaran. Diam-diam, banyak yang jatuh hati. Termasuk aku—dan mungkin aku yang paling diam-diam di antara semua.

Terakhir kali aku bertemu muka dengan dia, adalah pada saat kelulusan, sudah belasan tahun lalu dari hari ini. Hidup sudah berpindah jauh dari masa SMA, tapi yang bikin aku heran, sesekali dia masih suka muncul dalam mimpiku. Dan semalam, entah kenapa, wajah itu muncul lagi di sela tidurku. Mungkin karena siangnya aku bercanda soal cewek cantik di acara TV, atau mungkin juga karena memori tentang dia memang tak pernah benar-benar padam. Hanya tertimbun, bukan hilang.

Dulu waktu masih sekolah, seorang teman pernah nyeletuk, "nanti kalau ada dari kita yang beruntung dapet dia..."—sejak itu aku sadar, dia bukan cuma bunga di taman hatiku, tapi bunga yang juga bikin lebah-lebah lain berdengung. Ada sedikit rasa bangga, tapi juga minder, karena diam-diam aku merasa kecil di antara kompetitor yang lebih percaya diri.

Buatku dia bukan tipe yang bisa gampang didekati. Bahkan kalau kebetulan hanya berdua denganku di kelas, dia cenderung menghindar, cari teman lain. Dulu aku pikir mungkin dia malu karena ada rasa juga, sekarang aku sadar, mungkin dia tahu aura pikiranku tidak sebersih itu. Mungkin dia bisa mencium potensi "mesum diam-diam" dari anak cowok yang terlalu banyak overthinking dan dengerin Radiohead malam-malam 🙈.

Lucunya, meski cuma teman sekelas biasa, aku tahu cukup banyak tentang dia. Dulu waktu masuk sekelas, dalam satu obrolan kelompok, aku pernah bikin dia sedikit terkejut karena tahu prodi tujuan dia kuliah nanti. Setelah lulus sekolah pun, dulu masih suka intip-intip sosmed dia dan lihat gambaran dia waktu kuliah. Sekarang jejak digital tentang dia hampir sepenuhnya hilang. Akun media sosialnya tidak bisa ditemukan, dan entah kenapa selalu hampir bertepatan dengan saat ketika aku justru mulai aktif di platform tersebut. Satu-satunya yang tersisa hanyalah akun LinkedIn yang mati suri. Di platform ini pun, informasi yang dia sediakan sangat minim. Bahkan foto profil pun hilang bersamaan dengan mulai aktifnya aku di platform itu juga. Hampir semua kehadirannya di dunia maya lenyap. Mungkin karena karier, mungkin karena pilihan hidup, atau mungkin—yang lebih menyakitkan dan bikin overthinking—karena aku? 

Kadang aku berpikir: "Apa dia merasa aku menguntitnya, apa aku sudah bertindak berlebihan?"

Tapi ya sudahlah. Dia sekarang mungkin sudah jadi istri orang. Aku pun sudah berjalan jauh. Kami sudah terpisah jauh, baik secara emosional maupun secara literal. Kalau info dari akun LinkedIn-nya yang mati suri itu bisa dipercaya, dia sekarang kerja di UAE, sedangkan aku di pelosok Pulau Kalimantan. Dari sini saja sudah bisa tampak betapa jauh dan bertolak belakangnya dia dan aku saat ini. Dia berada di salah satu negara maju dengan indeks pembangunan manusia tertinggi di kawasan Arab, sedangkan aku berada di salah satu provinsi yang masuk dalam kawasan yang paling tertinggal di Indonesia. Kami berada pada zona waktu yang jauh berbeda, baik secara literal maupun spiritual.

Tapi tetap saja, kadang hati ini seperti bandara yang ramai: ada satu gate kenangan yang selalu siap disinggahi mimpi. Aku kadang membayangkan satu momen itu—berpapasan di bandara, saling melirik, senyum sedikit, lalu sama-sama menoleh ke arah lain karena malu, dan pas menoleh lagi, dia sudah hilang ditelan kerumunan. Seperti kenyataan yang tak pernah bisa ditangkap, hanya bisa dikenang.

Melati gambir. Mungil, harum, tak banyak bicara, tapi meninggalkan bekas yang sulit dilupakan.

Mungkin aku tidak butuh jawaban. Mungkin juga tidak perlu reuni dramatis atau obrolan panjang buat menuntaskan rasa yang pernah ada. Karena beberapa hal memang diciptakan untuk tidak selesai—cukup hadir sebentar, lalu tinggal sebagai getaran halus yang kadang muncul saat lagu lama diputar, atau saat aroma tertentu mampir lewat angin.

Dan dalam bentuk yang paling jujur, aku bersyukur pernah menyukainya. Diam-diam, lama, dan sepenuh hati versi remajaku yang kikuk.

Kini, setelah bertahun-tahun, aku cuma ingin mendoakan yang baik. Untuk dia. Untuk masa muda kami yang canggung. Untuk semua hal yang tak terucap dan mungkin tak akan pernah sempat.

Karena meskipun dia tak tahu, dan mungkin tak akan pernah tahu, aku pernah menanam melati di sudut hati—dan itu cukup.

Dan untukmu, si melati gambir. Kalau suatu hari kamu—secara ajaib—membaca tulisan ini, aku harap kamu tahu satu hal penting: aku nggak pernah berniat "mengikuti" hidupmu dengan cara yang nggak sehat. Aku bukan detektif, bukan penguntit digital, apalagi seseorang yang hidup di masa lalu.

Aku cuma pernah suka. Dan sesekali, rasa penasaran itu muncul—bukan untuk mengusik, tapi karena ada bagian dari hidupku yang dulu pernah tertaut sama senyummu.

Sekarang aku sudah di jalanku sendiri. Sudah bahagia, sudah penuh cerita lain yang indah juga. Tapi rasanya tetap menyenangkan ketika tahu kamu—si melati gambir yang dulu pernah tumbuh di sudut hati—tampaknya baik-baik saja. Dan itu cukup bikin aku ikut lega.

Jadi jangan khawatir. Nggak ada niat drama, nggak ada niat ganggu, apalagi ribut cari tiket Emirates ke UAE. Ini cuma catatan kecil dari seseorang yang dulu pernah berharap, lalu belajar mengikhlaskan.

Let this be the closure of our story (if there's any).

Pontianak, 5 Mei 2025


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Karantina