Postingan

Surat Untuk Si Melati Gambir

Gambar
Kalau harus mengumpamakan dia, mungkin aku akan memilih bunga melati. Lebih spesifiknya: melati gambir. Bukan sekadar karena bentuknya yang mungil atau wanginya yang khas, tapi karena ada sesuatu dari dirinya yang mengingatkan pada aroma masa lalu—lembut, bersih, dan menghanyutkan secara halus. Dia seperti melati dalam banyak sisi: kalem, menjaga diri, tak pernah mencolok tapi justru memikat. Paling tidak itu yang ada di dalam pikiranku. Wajahnya oriental, tapi logatnya medok Jawa Tengah, seperti harmoni antara dua dunia yang membentuk satu karakter manis dan membumi. Dia bukan tipe yang blak-blakan; sikapnya cenderung menjaga jarak, tapi justru itu yang bikin penasaran. Diam-diam, banyak yang jatuh hati. Termasuk aku—dan mungkin aku yang paling diam-diam di antara semua. Terakhir kali aku bertemu muka dengan dia, adalah pada saat kelulusan, sudah belasan tahun lalu dari hari ini. Hidup sudah berpindah jauh dari masa SMA, tapi yang bikin aku heran, sesekali dia masih suka muncul dalam...

Sambal bawang, sambalnya orang malas. Tapi kok enak..

Gambar
Sambal ulek.(via Wikimedia Commons) Suatu ketika, pas tanggal muda, karena bosan dengan menu yang begitu-begitu saja, maka istri saya berinisiatif untuk membeli beberapa kilo ikan laut. Yah, bukan ikan yang mewah-mewah amat sih, cuma ikan mata besar atau bahasa kerennya bigeye tuna . Alhasil, malamnya, ikan tersebut dimasak dengan cara yang biasa saja, digoreng dengan taburan bumbu kemasan. Nah, setelah acara goreng menggoreng selesai, ternyata anak saya yang baru berusia 3 bulan bangun dan menangis, minta nenen, jadi terhentilah aktifitas memasak istri saya, dengan hasil sementara beberapa ekor ikan goreng yang nampak lezat. Tapi, baru saja saya mengintip, istri saya malah berteriak dari kamar, minta dibikinin sambal buat makan ikan tadi. Aish, pikir saya, bikin kerjaan aja. Akhirnya dengan sedikit malas saya pun mulai berpikir, sambal apa yang paling mudah dibikin. Aha, pikir saya, bikin aja sambal bawang. Ya, sambal bawang, sambal simpel yang tidak perlu banyak bumbu. Ak...

Catatan Karantina

Hari ini sudah masuk hari ke-58 karantina terkait dengan pandemi Covid-19 yang tercatat mulai masuk ke Indonesia (secara pengumuman pemerintah) sejak bulan Maret 2020. Kejenuhan sudah terakumulasi begitu besarnya hingga kebanyakan orang sudah menganggap apa yang terjadi sekarang adalah sesuatu yang normal dan mulai melanjutkan aktifitasnya seperti biasa. Di sisi lain, kebijakan pemerintah semakin tak terarah. Hari kemarin presiden ngomong ini, besoknya mentrinya ngomong itu, hari ini pejabat satu ngomong ini, besoknya pejabat lain ngomong beda lagi. Sungguh membingungkan. Covid-19 di Indonesia awalnya ditanggapi secara sepele oleh pejabat-pejabat pemerintah. Bahkan tidak sedikit dari pejabat itu yang justru membercandainya. Pada awal virus ini mewabah, pemerintah bahkan sempat mewacanakan untuk menggenjot sektor pariwisata untuk memanfaatkan peluang dari lesunya perjalanan wisata karena kekhawatiran akan virus ini. Diskon tiket pesawat besar-besaran pun sempat dilakukan, alih-alih men...

Ilmu dan kesombongan

Gambar
"Gambar dapat bermakna 1000 kata", kata dosen saya dulu. 1 gambar akan lebih efektif daripada penjelasan satu paragraf, satu gambar dapat pula dimaknai lebih dari satu makna. Itu memang betul saya rasa. Seperti yang saya alami belakangan.  Beberapa waktu lalu saya menemukan sebuah gambar yang cukup menarik, yaitu seperti ini: Gambar itu bisa dimaknai sebagai lelucon, dimana sang pembuat drainase dianggap gagal karena drainase buatannya tidak mampu membuang genangan yang ada di jalan tersebut. Namun di sisi lain, saya menganalogikannya menjadi hubungan ilmu dan sifat sombong/congkak/pongah yang menghalanginya. Drainase yang letaknya lebih tinggi tersebut adalah analogi sifat sombong seseorang, dimana karena kesombongannya dia tidak mau belajar dari kesalahan sehingga ilmu tidak masuk kedalam dirinya. Saya teringat kata dosen saya yang lain dulu, kata beliau "Salah satu tahap awal orang bisa berubah itu adalah dengan menyadari dulu kebodohannya, sehingga dia ...

Just a little thougts about my social media life

Saat itu menjelang siang di hari minggu, saya sedang membuka halaman Facebook saya, tepatnya halaman utama yang berisi update-an teman-teman saya di Facebook. Seperti biasa.. kebanyakan isinya curhatan.. dan bombardiran post dari fans "klub sepakbola sejuta umat" yang menang semalam.. (ah, I wish they lost in every match, so my timeline will be quiet and peaceful everyday!). Kemudian saya melihat beberapa post dari salah satu teman saya di SMA dulu. Post statusnya memakai bahasa Inggris yang lumayan kasar.. sepertinya ditujukan kepada seorang wanita--teman saya itu adalah seorang wanita juga. Akhir-akhir ini teman saya itu memang sering mempost update an yang semacam itu. Hampir setiap kali saya buka Facebook, pasti saya temui postingan bernada kebencian dan umpatan dari teman saya itu. Entah apa yang terjadi padanya, tapi itu benar-benar merubah penilaian saya kepadanya. Ada yang bilang, jika ingin tahu orang yang sebenarnya, lihat timeline Facebook-nya.. Well, itu yang say...

Thougths on Indonesia 0 - 0 Vietnam (pen 7-6) AFF U19 Final 2013

Intro Akhirnya setelah beberapa lama sepakbola Indonesia tidak mendapatkan prestasi berarti, kini timnas U19 Indonesia berhasil menjadi juara di kompetisi AFF U19 tahun ini setelah mengalahkan Vietnam di final melalui adu tendangan penalti. Pertandingan berlangsung dengan sengit dan sempat membuat saya ragu akan peluang Indonesia. Tulisan ini adalah pikiran yang terbesit di benak saya saat (dan setelah) menonton pertandingan tersebut. Talking Points Ada paling beberapa hal yang menjadi perhatian saya pada pertandingan tersebut: 1. Start Vietnam Vietnam menekan Indonesia sejak kick-off, para pemain Vietnam mengejar bola di area pertahanan Indonesia, mencoba untuk membuat para pemain Indonesia tidak nyaman memainkan bola. 2. Defensive plan Vietnam Setiap kali Indonesia menguasai bola, 2-3 pemain langsung mendekati dan menekan pemain yang yang membawa bola. Mereka mempersempit area permainan di sekitar bola, membatasi opsi passing pemain Indonesia. Ini memaksa para pemain Indon...