Surat Untuk Si Melati Gambir
Kalau harus mengumpamakan dia, mungkin aku akan memilih bunga melati. Lebih spesifiknya: melati gambir. Bukan sekadar karena bentuknya yang mungil atau wanginya yang khas, tapi karena ada sesuatu dari dirinya yang mengingatkan pada aroma masa lalu—lembut, bersih, dan menghanyutkan secara halus. Dia seperti melati dalam banyak sisi: kalem, menjaga diri, tak pernah mencolok tapi justru memikat. Paling tidak itu yang ada di dalam pikiranku. Wajahnya oriental, tapi logatnya medok Jawa Tengah, seperti harmoni antara dua dunia yang membentuk satu karakter manis dan membumi. Dia bukan tipe yang blak-blakan; sikapnya cenderung menjaga jarak, tapi justru itu yang bikin penasaran. Diam-diam, banyak yang jatuh hati. Termasuk aku—dan mungkin aku yang paling diam-diam di antara semua. Terakhir kali aku bertemu muka dengan dia, adalah pada saat kelulusan, sudah belasan tahun lalu dari hari ini. Hidup sudah berpindah jauh dari masa SMA, tapi yang bikin aku heran, sesekali dia masih suka muncul dalam...