Thougths on Indonesia 0 - 0 Vietnam (pen 7-6) AFF U19 Final 2013
Intro
Akhirnya setelah beberapa lama sepakbola Indonesia tidak mendapatkan prestasi berarti, kini timnas U19 Indonesia berhasil menjadi juara di kompetisi AFF U19 tahun ini setelah mengalahkan Vietnam di final melalui adu tendangan penalti. Pertandingan berlangsung dengan sengit dan sempat membuat saya ragu akan peluang Indonesia. Tulisan ini adalah pikiran yang terbesit di benak saya saat (dan setelah) menonton pertandingan tersebut.
Talking Points
Ada paling beberapa hal yang menjadi perhatian saya pada pertandingan tersebut:
1. Start Vietnam
Vietnam menekan Indonesia sejak kick-off, para pemain Vietnam mengejar bola di area pertahanan Indonesia, mencoba untuk membuat para pemain Indonesia tidak nyaman memainkan bola.
2. Defensive plan Vietnam
Setiap kali Indonesia menguasai bola, 2-3 pemain langsung mendekati dan menekan pemain yang yang membawa bola. Mereka mempersempit area permainan di sekitar bola, membatasi opsi passing pemain Indonesia. Ini memaksa para pemain Indonesia mendekat atau memberikan support kepada pemain yang membawa bola dan menciptakan ruang bagi Vietnam untuk melancarkan serangan balik. Mereka melakukan pressing semacam ini sejak bola masih berada di daerah pertahanan Indonesia.
3. Serangan Vietnam
Serangan Vietnam berkaitan dengan defensive plan mereka. Sementara mereka mempersempit ruang permainan, mereka tetap berusaha mempertahankan lebar area permainan mereka sendiri dengan cara meninggalkan pemain mereka di area yang lebih lebar sehingga pada saat mereka mendapatkan bola mereka bisa dengan cepat melakukan serangan yang lebih ekspansif. Pemahaman dalam mengontrol lebar area permainan menjadi kunci permainan Vietnam di babak pertama.
4. Defensive plan Indonesia
Secara umum ketika bertahan, barisan belakang Indonesia mempersempit jarak antar pemainnya dan mencoba mengurung pemain Vietnam yang membawa bola. Ini dimanfaatkan Vietnam yang melakukan awal serangan seringkali hanya dengan 2-3 pemain yang saling berdekatan. Didukung dengan kemampuan dalam menjaga bola, mereka menunggu pertahanan Indonesia merapat dan membuka ruang di sisi luar pertahanan, memungkinkan pemain Vietnam di wide area yang melakukan support dan datang belakangan untuk mendapatkan ruang terbuka dan membuat peluang yang beberapa kali membahayakan gawang Indonesia.
5. Serangan Indonesia
Serangan Indonesia secara umum di turnamen ini adalah memanfaatkan kecepatan dan skill individu para pemain sayap, serta pergerakan Evan Dimas [#6] dari tengah lapangan. Pada babak pertama plan Indonesia ini tidak berhasil, karena defensive plan Vietnam yang efektif. Lini sayap hampir selalu kehilangan bola sebelum ada support di tengah. Aliran bola dari lini tengah ke depan tidak berjalan baik. Ini menyebabkan lini depan Indonesia harus berusaha mendapatkan bola langsung di daerah pertahanan Vietnam yang menyebabkan banyaknya pelanggaran yang dilakukan penyerang-penyerang Indonesia di area lini depan.
6. Perubahan Indonesia
Pada sekitar menit ke-37 Indonesia memasukkan Maldini [#15] yang memiliki kemampuan yang baik dalam menjaga bola menggantikan Dinan [#9] ini mungkin dimaksudkan agar kedua pemain sayap kita tidak mudah kehilangan bola, namun plan ini tidak memberikan banyak perubahan dan Indonesia mengakhiri babak pertama dengan penguasaan bola 40% berbanding 60% milik Vietnam.
7. Babak kedua, perubahan Vietnam dan momentum Indonesia
Pada sekitar 10 menit babak kedua Vietnam melakukan perubahan dengan bermain lebih lebar dan frontal. Penyerangan tidak hanya dilakukan 2-3 pemain namun hingga 4-5 pemain. Pressing mereka juga tampak agak lebih longgar. Kedua pemain sayap Indonesia bisa lebih leluasa bergerak dan menghasilkan beberapa peluang dan situasi set-piece baik dari tendangan bebas maupun tendangan sudut. Penguasaan bola mulai sedikit demi sedikit dikuasai oleh Indonesia. Momentum Indonesia ini bertahan hingga babak kedua usai hingga 2x15 menit perpanjangan waktu. Kedua pemain yang dimasukkan pada masa-masa ini yaitu Hendra Sandi [#11] dan Dimas Drajad [#7] berperan cukup baik dalam menciptakan peluang.
Poin penentu pertandingan: Resistansi
Perubahan taktik Vietnam di 10 menit babak kedua menjadi titik awal kebangkitan Indonesia. Sejak saat itulah Indonesia mulai menemukan momentum dan mulai sedikit demi sedikit mendominasi. Salah satu poin penting yang berperan dalam menentukan jalannya pertandingan ini adalah resistansi dan daya tahan para pemain Indonesia yang lebih baik di pertandingan ini dibandingkan Vietnam. Kondisi fisik para pemain Vietnam terkuras pada saat pertandingan memasuki menit-menit akhir. Ini terlihat dari banyaknya pemain Vietnam yang cedera/membutuhkan perawatan di masa-masa akhir pertandingan. Kondisi ini memungkinkan Indonesia melakukan tekanan dengan cepat dan terus menerus, memaksa para pemain Vietnam melakukan kesalahan yang menciptakan peluang. Ini juga memungkinkan pemain-pemain Indonesia untuk cepat melakukan covering saat bertahan. Penampilan kiper Indonesia yang cukup aman juga menjadi salah satu poin penting. Dengan kedua poin tersebut memungkinkan Indonesia tetap clean-sheet. Pertandingan pun harus diselesaikan dengan adu tendangan penalti.
PenutupPertandingan tersebut merupakan sebuah pertandingan yang menunjukkan keunggulan taktis yang dimiliki Vietnam dilawan oleh Indonesia dengan memanfaatkan daya juang dan resistansi yang tinggi. Ini menunjukkan betapa potensial kemampuan yang dimiliki kedua tim. Masih banyak ruang bagi kedua tim untuk berkembang, dan karena itu bagi timnas Indonesia, kita masih perlu berbenah karena mungkin di masa depan kita akan bertemu dengan timnas Vietnam yang sama yang merepotkan kita kali ini.
Akhirnya setelah beberapa lama sepakbola Indonesia tidak mendapatkan prestasi berarti, kini timnas U19 Indonesia berhasil menjadi juara di kompetisi AFF U19 tahun ini setelah mengalahkan Vietnam di final melalui adu tendangan penalti. Pertandingan berlangsung dengan sengit dan sempat membuat saya ragu akan peluang Indonesia. Tulisan ini adalah pikiran yang terbesit di benak saya saat (dan setelah) menonton pertandingan tersebut.
Talking Points
Ada paling beberapa hal yang menjadi perhatian saya pada pertandingan tersebut:
1. Start Vietnam
Vietnam menekan Indonesia sejak kick-off, para pemain Vietnam mengejar bola di area pertahanan Indonesia, mencoba untuk membuat para pemain Indonesia tidak nyaman memainkan bola.
2. Defensive plan Vietnam
Setiap kali Indonesia menguasai bola, 2-3 pemain langsung mendekati dan menekan pemain yang yang membawa bola. Mereka mempersempit area permainan di sekitar bola, membatasi opsi passing pemain Indonesia. Ini memaksa para pemain Indonesia mendekat atau memberikan support kepada pemain yang membawa bola dan menciptakan ruang bagi Vietnam untuk melancarkan serangan balik. Mereka melakukan pressing semacam ini sejak bola masih berada di daerah pertahanan Indonesia.
3. Serangan Vietnam
Serangan Vietnam berkaitan dengan defensive plan mereka. Sementara mereka mempersempit ruang permainan, mereka tetap berusaha mempertahankan lebar area permainan mereka sendiri dengan cara meninggalkan pemain mereka di area yang lebih lebar sehingga pada saat mereka mendapatkan bola mereka bisa dengan cepat melakukan serangan yang lebih ekspansif. Pemahaman dalam mengontrol lebar area permainan menjadi kunci permainan Vietnam di babak pertama.
4. Defensive plan Indonesia
Secara umum ketika bertahan, barisan belakang Indonesia mempersempit jarak antar pemainnya dan mencoba mengurung pemain Vietnam yang membawa bola. Ini dimanfaatkan Vietnam yang melakukan awal serangan seringkali hanya dengan 2-3 pemain yang saling berdekatan. Didukung dengan kemampuan dalam menjaga bola, mereka menunggu pertahanan Indonesia merapat dan membuka ruang di sisi luar pertahanan, memungkinkan pemain Vietnam di wide area yang melakukan support dan datang belakangan untuk mendapatkan ruang terbuka dan membuat peluang yang beberapa kali membahayakan gawang Indonesia.
5. Serangan Indonesia
Serangan Indonesia secara umum di turnamen ini adalah memanfaatkan kecepatan dan skill individu para pemain sayap, serta pergerakan Evan Dimas [#6] dari tengah lapangan. Pada babak pertama plan Indonesia ini tidak berhasil, karena defensive plan Vietnam yang efektif. Lini sayap hampir selalu kehilangan bola sebelum ada support di tengah. Aliran bola dari lini tengah ke depan tidak berjalan baik. Ini menyebabkan lini depan Indonesia harus berusaha mendapatkan bola langsung di daerah pertahanan Vietnam yang menyebabkan banyaknya pelanggaran yang dilakukan penyerang-penyerang Indonesia di area lini depan.
6. Perubahan Indonesia
Pada sekitar menit ke-37 Indonesia memasukkan Maldini [#15] yang memiliki kemampuan yang baik dalam menjaga bola menggantikan Dinan [#9] ini mungkin dimaksudkan agar kedua pemain sayap kita tidak mudah kehilangan bola, namun plan ini tidak memberikan banyak perubahan dan Indonesia mengakhiri babak pertama dengan penguasaan bola 40% berbanding 60% milik Vietnam.
7. Babak kedua, perubahan Vietnam dan momentum Indonesia
Pada sekitar 10 menit babak kedua Vietnam melakukan perubahan dengan bermain lebih lebar dan frontal. Penyerangan tidak hanya dilakukan 2-3 pemain namun hingga 4-5 pemain. Pressing mereka juga tampak agak lebih longgar. Kedua pemain sayap Indonesia bisa lebih leluasa bergerak dan menghasilkan beberapa peluang dan situasi set-piece baik dari tendangan bebas maupun tendangan sudut. Penguasaan bola mulai sedikit demi sedikit dikuasai oleh Indonesia. Momentum Indonesia ini bertahan hingga babak kedua usai hingga 2x15 menit perpanjangan waktu. Kedua pemain yang dimasukkan pada masa-masa ini yaitu Hendra Sandi [#11] dan Dimas Drajad [#7] berperan cukup baik dalam menciptakan peluang.
Poin penentu pertandingan: Resistansi
Perubahan taktik Vietnam di 10 menit babak kedua menjadi titik awal kebangkitan Indonesia. Sejak saat itulah Indonesia mulai menemukan momentum dan mulai sedikit demi sedikit mendominasi. Salah satu poin penting yang berperan dalam menentukan jalannya pertandingan ini adalah resistansi dan daya tahan para pemain Indonesia yang lebih baik di pertandingan ini dibandingkan Vietnam. Kondisi fisik para pemain Vietnam terkuras pada saat pertandingan memasuki menit-menit akhir. Ini terlihat dari banyaknya pemain Vietnam yang cedera/membutuhkan perawatan di masa-masa akhir pertandingan. Kondisi ini memungkinkan Indonesia melakukan tekanan dengan cepat dan terus menerus, memaksa para pemain Vietnam melakukan kesalahan yang menciptakan peluang. Ini juga memungkinkan pemain-pemain Indonesia untuk cepat melakukan covering saat bertahan. Penampilan kiper Indonesia yang cukup aman juga menjadi salah satu poin penting. Dengan kedua poin tersebut memungkinkan Indonesia tetap clean-sheet. Pertandingan pun harus diselesaikan dengan adu tendangan penalti.
PenutupPertandingan tersebut merupakan sebuah pertandingan yang menunjukkan keunggulan taktis yang dimiliki Vietnam dilawan oleh Indonesia dengan memanfaatkan daya juang dan resistansi yang tinggi. Ini menunjukkan betapa potensial kemampuan yang dimiliki kedua tim. Masih banyak ruang bagi kedua tim untuk berkembang, dan karena itu bagi timnas Indonesia, kita masih perlu berbenah karena mungkin di masa depan kita akan bertemu dengan timnas Vietnam yang sama yang merepotkan kita kali ini.
Komentar
Posting Komentar