Just a little thougts about my social media life
Saat itu menjelang siang di hari minggu, saya sedang membuka halaman Facebook saya, tepatnya halaman utama yang berisi update-an teman-teman saya di Facebook. Seperti biasa.. kebanyakan isinya curhatan.. dan bombardiran post dari fans "klub sepakbola sejuta umat" yang menang semalam.. (ah, I wish they lost in every match, so my timeline will be quiet and peaceful everyday!). Kemudian saya melihat beberapa post dari salah satu teman saya di SMA dulu. Post statusnya memakai bahasa Inggris yang lumayan kasar.. sepertinya ditujukan kepada seorang wanita--teman saya itu adalah seorang wanita juga. Akhir-akhir ini teman saya itu memang sering mempost update an yang semacam itu. Hampir setiap kali saya buka Facebook, pasti saya temui postingan bernada kebencian dan umpatan dari teman saya itu. Entah apa yang terjadi padanya, tapi itu benar-benar merubah penilaian saya kepadanya. Ada yang bilang, jika ingin tahu orang yang sebenarnya, lihat timeline Facebook-nya.. Well, itu yang saya rasakan terjadi pada teman saya itu, entah benar begitu atau tidak.
What's on your mind?
Para
pengguna Facebook pasti familiar dengan kata-kata ini. Ya, itulah
kalimat yang tertulis di box status facebook. Kalimat ini mungkin
memberi sugesti tersendiri bagi para pengguna untuk menuliskan apa yang
ada di pikirannya, dan kadang, apapun tanpa di-filter sehingga banyak
status berbau curhatan dan caci maki. Saya pun dulu sepertinya
melakukannya.. apapun di pikiran saya--saat membuka Facebook--hampir
selalu saya tulis, atau sebaliknya ketika saya ada pikiran, ada kalanya
saya ingin sekali posting di Facebook walaupun mungkin hal itu hanya
berupa ungkapan kekesalan, curhat, dan semacamnya, yang mungkin tidak
begitu bermakna bagi orang lain--selain, mungkin memberi tahu bagaimana
"karakter saya sesungguhnya" kepada setiap orang di Facebook.
My social media life could have changed my life
Saya mulai mengenal media sosial yang populer sekarang ini, Facebook dan Twitter, sejak saya masuk kuliah tahun 2008. Ketika itu saya masih merasa "terikat" dengan teman-teman saya di SMA jadi saya ikut membuat akun agar saya masih bisa berhubungan dengan mereka (I have a wonderful highscool life, you know!). Tapi setelah beberapa lama, saya sepertinya mulai kecewa, bosan (atau apapun) karena banyak hal, salah satunya mungkin karena saya melihat terlalu banyak posting status yang tidak berguna dan least-informative, mungkin juga karena kebijakan privasi facebook yang "mengerikan" menurut saya. Yang menyebabkan orang bisa melihat aktifitas kita di Facebook, atau bahkan di internet yang somehow terhubung dengan Facebook. Mungkin karena saya akhirnya saya "tahu" bagaimana sifat teman saya sesungguhnya (dan sebaliknya?).
Ini membuat saya berpikir sekarang ini: "Sepertinya, kalau saya tahu Facebook sejak jaman sekolah dulu, sepertinya kehidupan saya tidak akan seperti ini". Saya membayangkan kalau saya, di umur-umur SMP-SMA yang masih sangat labil, pastinya saya akan sering melihat curhatan dan ungkapan pikiran teman-teman saya, dan mungkin saya akan melakukannya juga. Saya mungkin akan bisa "melihat" teman saya "sebenarnya" dan sepertinya kehidupan sekolah saya tidak se-menyenangkan yang saya alami.
Ah, entahlah, ini cuma pikiran saya saja sih.
Komentar
Posting Komentar